Apa sih employee engagement itu? trend dalam manajemen kah? atau kumpulan teori hasil penelitian kah?
Kalau sekedar trend, maka dengan mengetahui definisinya, kita bisa mencernanya secara akal sehat, secara common sense. Jadi bila engagement diartikan keterlibatan emosional, secara akal sehat kita sudah bisa duga bila karyawan dibaik-baiki ia bisa engage.
Sayangnya engagement bukan trend, tapi hasil dari penelitian-penelitian. Repotnya kalau hasil penelitian, sedikit banyak perlu tau asal usulnya, sehingga tidak cepat-cepat loncat pada suatu kesimpulan.
Adalah aliran Psikologi Positif yang melihat engagement secara ilmiah, dipelopori hasil penelitian Mihaly Csikszentmihalyi tentang Flow, yaitu kondisi dimana seseorang mengalami keterlibatan/engagement yang ditandai dengan keasyikan hingga lupa waktu saat menjalani suatu aktivitas, dimana ia merasakan kenikmatan mendalam dan kebahagiaan dalam melakukan aktivitas tersebut.
Orang dapat mengalami flow saat melakukan aktivitas kesenian, olahraga, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, di mana mereka berkesempatan menggunakan kekuatan/strengths mereka untuk menjawab tantangan yang dihadapi secara menyenangkan.
Martin Seligman, 'Bapak'nya psikologi positif, melalui skema PERMA (Positive emotion, Engagement, Relationship, Meaning, Accomplishement) menempatkan Enagagement ini sebagai salah satu hal yang harus dicapai bila seseorang ingin mencapai kehidupan yang bahagia sejahtera lahir batin.
Organisasi Gallup - pelopor psikologi strengths/kekuatan, sebuah ranah kajian dalam psikologi positif - secara sistematis melakukan penelitian-penelitian tentang mengapa ada orang-orang yang hebat bekerja secara extra miles di perusahaan.
Hasilnya adalah konsep behavioral economy yang diterjemahkan dalam Gallup Path. Salah satu dari path itu adalah Engaged Employee sebagai hasil dari adanya seorang Great Manager di tempat kerja.
'Tugas' dari seorang Great Manager adalah memilih dan mengetahui kelebihan/strengths dari setiap anak buahnya, dan kemudian menempatkan si anak buahnya ke pekerjaan yang sesuai dengan kelebihannya itu, dan kemudian memenuhi kebutuhan-kebutuhan si anak buah: kebutuhan dasar sebagai pekerja , kebutuhan untuk berkinerja baik, kebutuhan bekerja sama dan diterima dalam team kerja, dan kebutuhan untuk berkembang.
Secara singkat, hasil penelitian Gallup itu menyimpulkan manajer adalah kuncinya. Kalau seorang manajer berhasil menjalankan syarat-syarat menjadi Great Manager, maka ia akan memiliki tim kerja yang 'engaged'.
Dari obrolan di atas, terlihat bahwa syarat mutlak untuk meningkatkan employee engagement, kita - manajer dan perusahaan - harus percaya dulu bahwa setiap karyawan itu unik dan memiliki kelebihan yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga harus diperlakukan sesuai dengan keunikannya masing-masing, satu per satu.
Bisa? bisa...
Mau? Hmmmm.
06 March 2013
19 January 2013
Jurnalistik YouTube
Ya, inilah genre baru jurnalistik, khususnya jurnalisitik televisi. Caranya? mudah saja, surfing di YouTube! karena disana tersedia berbagai video gratisan nyaris tentang apapun ada.
Jadi, misalnya kita akan buat liputan tentang banjir di Jakarta, maka segera kunjungi YouTube, surf dengan tag banjir jakarta, maka aneka video segera muncul. Langkah selanjutnya butuh sedikit kreativitas agar kemasan liputan nyambung antara satu video dengan video lainnya.
Gampang kan... apalagi semuanya gratis, cuma nyantumin alamat di youtube aja.
Nah, apakah konten gratisan seperti kalau dikomersialkan, misalnya dijadiin acara di tivi yang menghasilkan iklan, tetep gratisan? jangan-jangan jurnalistik ini malah masuk kategori jurnalistik pembajakan.
16 December 2011
PERMA-nya Martin Seligman
Martin Seligman semakin tajam saja mengupas psikologi positif. Kini ia memperbaharui konsepnya: PERMA.(P)ositive emotion, (E)ngagement, (R)elationship, (M)eaning & purpose dan (A)ccomplishment.
Pingin banget baca bukunya, Flourish, cuma apa daya ngga ketemu-ketemu samapai sekarang. Pernah ngelihat di Bandara Soeta, waktu itu males beli krn tebel nambah2in bawaan, eee ternyata di toko buku yang sama di luar bandara malah gak jual:(.
Kalau baca reviewnya, kayaknya sih semakin jelas aja apa yang mesti dilakukan untuk mencapai kondisi bahagia atau well being itu ala psikologi positif.
Penasaran pingin baca:(...
Pingin banget baca bukunya, Flourish, cuma apa daya ngga ketemu-ketemu samapai sekarang. Pernah ngelihat di Bandara Soeta, waktu itu males beli krn tebel nambah2in bawaan, eee ternyata di toko buku yang sama di luar bandara malah gak jual:(.
Kalau baca reviewnya, kayaknya sih semakin jelas aja apa yang mesti dilakukan untuk mencapai kondisi bahagia atau well being itu ala psikologi positif.
Penasaran pingin baca:(...
26 July 2011
Worklife balance, wellbeing dan employee engagement
Worklife balance, wellbeing dan employee engagement, apa hubungannya? Keseimbangan antara kehidupan kerja dengan kehidupan sosial (wlb), kebahagiaan hidup (well being) dan keterlibatan terhadap pekerjaan.
Hubungannya yang pasti adalah itu semua itu kondisi ideal yang ingin dicapai oleh setiap manusia yang bekerja. Itulah kebutuhannya kaum pekerja. Saat sibuk bekerja, ia masih bisa bersosialisasi, menjaga kesehatan tubuh, mental dan spiritual. Di pekerjaan pun ia mau bekerja secara extra karena merasa terlibat dengan pekerjaannya. Ujung-ujungnya, kebahagian dalam hidupnya membaik.
Bicara employee engagement tanpa membicarakan wellbeing dan wlb adalah bohong besar. Sebaliknya bicara wlb dan wellbeing karyawan tanpa menyentuh employee engagement adalah buang-buang uang.
Hubungannya yang pasti adalah itu semua itu kondisi ideal yang ingin dicapai oleh setiap manusia yang bekerja. Itulah kebutuhannya kaum pekerja. Saat sibuk bekerja, ia masih bisa bersosialisasi, menjaga kesehatan tubuh, mental dan spiritual. Di pekerjaan pun ia mau bekerja secara extra karena merasa terlibat dengan pekerjaannya. Ujung-ujungnya, kebahagian dalam hidupnya membaik.
Bicara employee engagement tanpa membicarakan wellbeing dan wlb adalah bohong besar. Sebaliknya bicara wlb dan wellbeing karyawan tanpa menyentuh employee engagement adalah buang-buang uang.
25 June 2011
Employer vs Employee Engagement, duluan mana?
Ya, duluan mana coba? employer engagement atau employee engagement?
Kalo employee engagement diartiin kemauan karyawan memberikan 'hati'nya ke kerjaan, maka employer engagement harusnya diartiin kemauan pemilik modal-pengusaha-management untuk memberikan 'hati'nya ke karyawan supaya karyawan engaged.
Percuma lah kalau suatu perusahaan pingin memperbanyak engaged employee-nya kalau ternyata perusahaan sendiri nggak mempraktekkan inisiatif yang bisa mempermudah karyawan jadi engaged.
Inisiatif apa aja? misalnya aja pengakuan perusahaan bahwa setiap karyawan itu unik, punya kelebihannya sendiri, sehingga kalo perusahaan mraktekkin talent management ngga sembrono bikin talent pool yang mana karyawan yang berpotensi dan mana yang enggak, tapi lebih kearah apakah karyawan sudah mraktekkin kelebihan yang dia punya di pekerjaan atau belum.
Apa lagi ya?
Kalo employee engagement diartiin kemauan karyawan memberikan 'hati'nya ke kerjaan, maka employer engagement harusnya diartiin kemauan pemilik modal-pengusaha-management untuk memberikan 'hati'nya ke karyawan supaya karyawan engaged.
Percuma lah kalau suatu perusahaan pingin memperbanyak engaged employee-nya kalau ternyata perusahaan sendiri nggak mempraktekkan inisiatif yang bisa mempermudah karyawan jadi engaged.
Inisiatif apa aja? misalnya aja pengakuan perusahaan bahwa setiap karyawan itu unik, punya kelebihannya sendiri, sehingga kalo perusahaan mraktekkin talent management ngga sembrono bikin talent pool yang mana karyawan yang berpotensi dan mana yang enggak, tapi lebih kearah apakah karyawan sudah mraktekkin kelebihan yang dia punya di pekerjaan atau belum.
Apa lagi ya?
Subscribe to:
Posts (Atom)